Menu

Mode Gelap
SOIna Kabupaten Bogor Gelar Halal Bihalal, Pacu Semangat Atlet Jelang Bupati Cup I PWI Kota Bogor Gelar Halal Bihalal Bersama Perumda Tirta Pakuan JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR Pemkab Bogor Gelar Forum Perempuan, Anak dan Disabilitas 2026 Dispora Segera Susun Kontingen Kabupaten Bogor Menuju Peparda VII Jabar 2026

Ekobis

Viko Gara dan Aril Aditian, Jadi yang Pertama Menghubungkan Talenta Muda Indonesia ke Industri Kehutanan Jepang

badge-check


					Viko Gara dan Aril Aditian, Jadi yang Pertama Menghubungkan Talenta Muda Indonesia ke Industri Kehutanan Jepang Perbesar

BOGORISTIMEWA.com – Dua profesional asal Indonesia, Viko Gara dan Aril Aditian, telah membuktikan bahwa kolaborasi lintas negara dapat membuka peluang baru di bidang kehutanan.

Setelah sukses membangun startup di Indonesia, keduanya kini mendirikan perusahaan bernama Nosuta di Fukuoka, Jepang, melalui program Startup Visa yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Fukuoka.

Nosuta dirancang untuk membantu mahasiswa kehutanan Indonesia meraih kesempatan kerja di industri kehutanan Jepang yang kini tengah kekurangan tenaga ahli.

Sebelum merintis Nosuta, Viko dan Aril aktif dalam venture building di Indonesia dan terlibat dalam pengembangan aplikasi e-money yang berhasil meraih lebih dari 5 juta pengguna serta menjadi Google Play App of the Year 2022 untuk kategori everyday essentials

Keberhasilan tersebut membuktikan kapasitas mereka dalam membangun solusi digital berskala besar dengan pendekatan teknologi dan kolaborasi lintas sektor.

“Selama 10 tahun terakhir, kami mempelajari cara menemukan product-market-fit di berbagai industri, termasuk finansial, travel, hospitality, dan teknologi,” ujar Viko, CEO dan Co-founder Nosuta.

“Sekarang, melalui Nosuta, kami memadukan latar belakang pendidikan kehutanan kami dengan pengalaman venture building untuk menjawab tantangan di sektor kehutanan Jepang.” tegasnya lagi.

Data menunjukkan bahwa industri kehutanan Jepang saat ini membutuhkan sekitar 20.000 tenaga kerja terampil.

Sementara itu, Indonesia meluluskan sekitar 9.000 sarjana kehutanan dan bidang terkait setiap tahunnya, banyak di antaranya masih mencari pekerjaan. Melalui Nosuta, Viko dan Aril berupaya mempertemukan kebutuhan industri kehutanan Jepang dengan potensi talenta muda Indonesia.

“Kami yakin kolaborasi ini akan memberi manfaat bagi kedua belah pihak: perusahaan kehutanan Jepang dapat memperoleh talenta muda yang kompeten, sementara mahasiswa Indonesia mendapatkan peluang karier internasional dan pengalaman berharga,” lanjut Viko.

Dalam menjalankan misinya, Nosuta mengusung konsep “Operator Universitas Virtual” yang menyediakan kurikulum satu tahun bagi mahasiswa kehutanan tingkat akhir. Program ini diujicobakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan mendapat sambutan positif. Kurikulum tersebut mencakup pelatihan praktis tentang pengelolaan hutan di Jepang, intensive language training agar mahasiswa siap berkomunikasi dalam bahasa Jepang, serta akses langsung ke perusahaan kehutanan Jepang yang membutuhkan tenaga kerja terampil.

Program ini diintegrasikan dengan SKS akademik mahasiswa tanpa biaya tambahan, sehingga tidak menambah beban kuliah maupun masa studi.

“Sebagai institusi pendidikan, kami ingin mahasiswa kami tidak hanya menguasai ilmu tetapi juga siap untuk memasuki dunia kerja internasional. Kerja sama dengan Nosuta memberikan jalur karier yang jelas dan relevan sesuai dengan slogan UMM sebagai Center for Future Work,” ujar Galit Prakosa, Kepala Departemen Kehutanan UMM.

Jumlah tenaga kerja kehutanan di Jepang pada tahun 2022 tersisa sekitar 42 ribu orang, atau hanya sepertiga dibandingkan dengan era 1980-an.

Sementara itu, kebutuhan pengelolaan hutan justru semakin meningkat karena sekitar 64% hutan tanaman di negara tersebut telah berusia 50 tahun ke atas, dengan kata lain, memasuki usia tebang.

Melalui program Startup Visa dan dukungan Pemerintah Kota Fukuoka, Nosuta mendapat pendampingan dari tim Global Business Support di Fukuoka Growth Next.

“Nosuta adalah startup pertama yang menyoroti krisis tenaga kerja di sektor kehutanan Jepang. NOSUTA dan inisiatif “Operator Universitas Virtual”-nya dapat menjadi solusi inovatif yang menghadirkan talenta baru dari Indonesia, dan kami memiliki harapan serta ekspektasi yang tinggi! ujar Shun Ono, perwakilan Global Business Support. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kolaborasi Bupati Rudy Susmanto dan PPLI, Malasari Jadi Fokus Pelestarian dan Pembangunan

28 Juli 2026 - 13:38 WIB

Meriahkan KaBogor Fest 2026, Tirta Kahuripan Dekatkan Pelayanan dan Perluas Akses Air Bersih

8 Juni 2026 - 16:19 WIB

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, DLH Kabupaten Bogor Apresiasi Gerakan Aksi Hijau PPLI

5 Juni 2026 - 16:01 WIB

PPLI Tebar Hewan Kurban Disalurkan untuk Warga Nambo dan Bantarjati

27 Mei 2026 - 12:08 WIB

Debut Perdana, Timnas FA7 Indonesia Bidik Prestasi pada Debut World Championship 2026 di Honduras

21 Mei 2026 - 21:35 WIB

Trending di Bogor Raya