Menu

Mode Gelap
JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR Pemkab Bogor Gelar Forum Perempuan, Anak dan Disabilitas 2026 Dispora Segera Susun Kontingen Kabupaten Bogor Menuju Peparda VII Jabar 2026 Bupati Rudy Susmanto Resmikan 4 Layanan Baru di RSUD Bakti Pajajaran, Hadirkan DSA dan Kemoterapi Tebar Kebaikan di Bulan Suci, PLN UP3 Gunung Putri Santuni 41 Warga

Bogor Raya

Kirab Panji dan Mahkota Binokasih di Kabupaten Bogor: Bukti Kebangkitan Kearifan Lokal

badge-check


					Kirab Panji dan Mahkota Binokasih di Kabupaten Bogor: Bukti Kebangkitan Kearifan Lokal Perbesar

BOGORISTIMEWA.com – Kirab Panji dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang digelar di Kabupaten Bogor, pada Senin, (21/4/25) menuai respon positif dari para budayawan.

Budayawan Senior Bogor, Ediana Hadi Nata mengatakan bahwa kehadiran mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan momentum kebangkitan nilai-nilai lokal yang sempat tergeser arus zaman.

“Budaya dan agama itu seperti dua kaki, harus seiring berjalan. Tidak bisa hanya satu yang dominan,” ujar Ediana Hadi Nata kepada wartawan.

Budayawan yang dikenal sebagai ahli tempa kujang dan pakar metalurgi itu menyebut, hadirnya mahkota tersebut ke Kabupaten Bogor merupakan suatu tanda kebangkitan kearifan lokal.

“Kalau menurut pengamatan Abah, sekarang ada harapan. Ini bukan cuma keren-kerenan, tapi tanda kebangkitan kearifan lokal,” ucapnya.

“Budaya itu budi dan daya. Intinya bukan cuma acara-acara formal, tapi harus edukatif, menyentuh generasi muda, bukan untuk segelintir orang saja,” sambungnya.

Ediana menjelaskan, Mahkota Binokasih yang dibuat pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja adalah simbol pemersatu.

Sedangkan Sunda, menurut dia, bukan sekadar etnis atau bangsa, melainkan ajaran hidup yang mendunia.

“Perilaku Sunda itu ramah tamah, itu yang harus dibangkitkan. Binokasih adalah simbol kasih yang membina, bukan berperang,” tuturnya.

“Filosofinya asah, asih, asuh, dari bawah sampai atas. Pemimpin harus turun ke bawah, edukasi rakyat secara langsung,” tambahnya.

Ediana optimis, jika nilai-nilai itu dihidupkan kembali, maka masa depan budaya Sunda akan cerah. Ia menyanyangkan narasi masa lalu yang menyebut leluhur Sunda sebagai masyarakat primitif.

“Padahal peradaban Sunda sudah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi, itu bukan primitif tapi itu leluhur kita yang lebih dulu membangun etika dan adab. Ini saatnya kita ulang budaya, seperti orang tua kita dulu saling menghormati, menghargai, dan bantu,” bebernya.

Sementara itu, Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Raden Djohari Soemawilaga mengungkapkan bahwa kirab Mahkota Binokasih ke Bogor sebagai upaya edukasi dan pelestarian peradaban.

“Mahkota ini bagi kami adalah nilai luhur yang mencerminkan peradaban, sejarah Sunda di Bogor tidak boleh terputus, kehadiran kami untuk memberikan khasanah budaya yang berkesinambungan,” pungkasnya. (Erwin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

PLN UP3 Gunung Putri Percepat Layanan One Day Service, Dukung Ekspansi Industri di Bogor

20 Maret 2026 - 11:43 WIB

Lonjakan Kebutuhan Air Saat Lebaran Diantisipasi, Perumda Tirta Kahuripan Turunkan Ratusan Petugas

15 Maret 2026 - 22:32 WIB

JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong

12 Maret 2026 - 19:41 WIB

HUT ke-45, Tirta Kahuripan Layani 244.675 Pelanggan di Kabupaten Bogor

12 Maret 2026 - 00:47 WIB

Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR

9 Maret 2026 - 08:37 WIB

Trending di Bogor Raya