Menu

Mode Gelap
JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR Pemkab Bogor Gelar Forum Perempuan, Anak dan Disabilitas 2026 Dispora Segera Susun Kontingen Kabupaten Bogor Menuju Peparda VII Jabar 2026 Bupati Rudy Susmanto Resmikan 4 Layanan Baru di RSUD Bakti Pajajaran, Hadirkan DSA dan Kemoterapi Tebar Kebaikan di Bulan Suci, PLN UP3 Gunung Putri Santuni 41 Warga

Bogor Raya

Menteri LH Prihatin TPPAS Lulut Nambo Mangkrak 10 Tahun, Dorong Operasional Penuh dalam 4 Bulan

badge-check


					Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq saat menyambangi TPPAS Lulut Nambo, Kabupaten Bogor. (Foto: Erwin) Perbesar

Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq saat menyambangi TPPAS Lulut Nambo, Kabupaten Bogor. (Foto: Erwin)

BOGORISTIMEWA.com – Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menyambangi Tempat Pengelolaan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Rabu, (20/8/25).

Dalam kunjungannya itu, Hanif mengaku prihatin dengan TPPAS Lulut Nambo yang dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov) karena tidak beroperasi hampir 10 tahun.

“Dengan Lulut Nambo tentu pemerintah Kementerian Lingkungan Hidup sangat prihatin dengan tidak operasionalnya Lulut Nambo ini hampir selama 10 tahun lebih,” ujar Hanif Faisol Nurofiq kepada wartawan.

Menurut Hanif, TPPAS Lulut Nambo saat ini belum bisa beroperasi secara maksimal, lantaran baru mengelola 2.500 ton sampah per harinya.

“Padahal Lulut Nambo diproyeksikan mampu menangani penanganan sampah di empat Kabupaten/Kota lingkup sekitar Lulut Nambo ini,” ucapnya.

Hanif menuturkan, TPPAS Lulut Nambo agar segera memprioritaskan pengelolaan sampah anorganik untuk mengejar target produksi Refuse Derived Fuel (RDF).

“Lulut Nambo ini tentu diperlukan langkah-langkah operasional yang cepat dari Pemerintah Provinsi karena memang ini pemerintahan baru, kita harapkan segera dilakukan langkah-langkah percepatannya, seperti segera mengoperasionalkan teknologi RDF,” tuturnya.

“Kenapa RDF? Karena di sini ada dua industri semen (PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dan PT Solusi Bangun Indonesia) yang relatif cukup besar untuk menyerap RDF tersebut,” sambungnya.

Oleh karena itu, Hanif berharap 4 bulan ke depan TPPAS Lulut Nambo bisa beroperasi secara maksimal.

“Harapan saya dalam waktu yang tidak terlalu lama bangunan yang sudah ada segera dioperasionalkan karena sangat sederhana tinggal ganti-ganti mesin. Katakanlah waktu 3-4 bulan sudah selesai yang ada dioperasionalkan dulu,” ungkapnya.

Sekadar informasi, PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK saat ini telah menjalin kerja sama dalam penyediaan RDF dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Berdasarkan kontrak yang telah disepakati, PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK akan menerima pasokan RDF sebanyak 625 ton per hari dari TPST Bantargebang. (Erwin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

PLN UP3 Gunung Putri Percepat Layanan One Day Service, Dukung Ekspansi Industri di Bogor

20 Maret 2026 - 11:43 WIB

Lonjakan Kebutuhan Air Saat Lebaran Diantisipasi, Perumda Tirta Kahuripan Turunkan Ratusan Petugas

15 Maret 2026 - 22:32 WIB

JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong

12 Maret 2026 - 19:41 WIB

HUT ke-45, Tirta Kahuripan Layani 244.675 Pelanggan di Kabupaten Bogor

12 Maret 2026 - 00:47 WIB

Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR

9 Maret 2026 - 08:37 WIB

Trending di Bogor Raya