Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Muhaimin Iskandar saat mengunjungi SMK-SMAK Bogor yang beralamat di Jalan Pangeran Sogiri No.374, Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Rabu (12/11/25). (Abizar/Bogoristimewa)
BOGORISTIMEWA.com – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Muhaimin Iskandar, menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia industri sebagai upaya meningkatkan relevansi lulusan terhadap kebutuhan pasar kerja. Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi SMK-SMAK Bogor yang beralamat di Jalan Pangeran Sogiri No.374, Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Rabu (12/11/25).
Dalam kunjungan tersebut, Muhaimin menyampaikan apresiasinya terhadap sistem pembelajaran di SMK-SMAK Bogor yang dinilai telah berhasil menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan dunia industri.
“Kita harus terus meningkatkan kerja sama dunia pendidikan dengan dunia industri. Pendidikan tidak boleh terpisah dari industri agar lulusan pendidikan formal sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Itulah yang disebut link and match,” ujar Muhaimin.
Menurutnya, pemberdayaan masyarakat yang sesungguhnya dimulai dari proses pendidikan yang mampu mendeteksi bakat dan minat siswa sejak dini. Ia menilai, sekolah perlu berperan aktif dalam membantu peserta didik merancang masa depan mereka sesuai potensi yang dimiliki.
“Sekolah perlu mendeteksi potensi dan talenta anak didik sejak awal, lalu mendiskusikan rencana masa depannya. Dengan begitu, ketika mereka masuk SMA atau SMK, pilihannya sudah sesuai dengan rencana masa depan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Muhaimin berharap dunia industri semakin terbuka dan menjadi mitra produktif bagi lembaga pendidikan. Ia menilai SMK-SMAK Bogor merupakan contoh sekolah kejuruan terbaik di Indonesia yang sudah mampu menjalin kerja sama kuat dengan sektor industri.
“Di SMAK Bogor ini, saya melihat levelnya sudah tinggi, sudah seimbang, dan menjadi bagian integral dari dunia industri. Ini contoh SMK terbaik di Indonesia yang patut dicontoh,” puji Muhaimin.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan program SMK Go Global yang digagas pemerintah sebagai solusi atas tingginya jumlah lulusan SMK yang belum bekerja. Data menunjukkan terdapat sekitar 1,6 juta lulusan SMK yang belum terserap di dunia kerja.
“Program SMK Go Global ini diawali dari keprihatinan terhadap 1,6 juta lulusan SMK yang belum bekerja. Kami mencari solusi agar mereka bisa diberdayakan dan terserap di lapangan kerja,” jelasnya.
Melalui program tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai skema pelatihan dan beasiswa bagi lulusan SMK yang ingin meningkatkan kompetensi, terutama bagi mereka yang siap bekerja di luar negeri.
“Bagi yang sudah memiliki keterampilan tertentu, Presiden berkenan memberi beasiswa untuk peningkatan kapasitas, terutama yang siap bekerja dan terserap di luar negeri. Kita ambil dulu pasarnya, cek kebutuhan keterampilannya, lalu tambahkan pelatihan bahasa. Setelah siap, mereka langsung diberangkatkan,” ungkapnya.
Saat ditanya mengenai kriteria khusus sekolah yang dapat berpartisipasi dalam program tersebut, Muhaimin menegaskan bahwa tidak ada batasan tertentu.
“Tidak ada. Semua yang berminat boleh ikut. Kebutuhan pasar saat ini sekitar 300 hingga 500 ribu tenaga kerja,” tegasnya.
Muhaimin menambahkan, kunjungan ke SMK-SMAK Bogor dilakukan sebagai langkah awal untuk memetakan kualitas lulusan dan menjadikan sekolah tersebut sebagai tolok ukur bagi peningkatan mutu SMK di seluruh Indonesia.
“Kita ingin menggunakan standar tertinggi untuk memetakan kualitas lulusan. Dari sini, kita bisa memperbarui standar bagi SMK lain agar kualitasnya meningkat dan setara. Kita dorong semua SMK untuk terus belajar, mengejar level, dan naik kelas,” pungkasnya.
Kunjungan kerja ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri, serta mendorong percepatan pemberdayaan tenaga kerja muda Indonesia menuju pasar global. (Abizar)






