Ilustrasi anjing depresi. (Pixabay)
BOGORISTIMEWA.com – Sebagaimana manusia, anjing ternyata juga dapat mengalami stres dan depresi. Demikian disampaikan Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor.
Kejadian depresi pada anjing kini mulai menjadi perhatian serius bagi praktisi kesehatan hewan. Pasalnya, kasusnya semakin meningkat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini.
“Jika anjing peliharaan tampak tidak mau makan, menggonggong, merengek, menangis serta terkadang dia tidak mau buang air, kita harus mulai waspada karena ada kemungkinan ia mengalami stres,” ujar Prof Ronny melansir laman IPB, Rabu (9/7/25).
Sebagai contoh, ketika ditinggal pemiliknya untuk sementara waktu dan dititipkan pada pengasuh, anjing sering berusaha kabur karena merasa pengasuhnya bukanlah bagian dari keluarganya. “Perubahan perilaku ini dapat diterjemahkan sebagai salah satu bentuk stres yang dialami hewan tersebut,” jelas Prof Ronny.
Companion Animal
Menurut Prof Ronny, ikatan batin antara anjing dan pemiliknya berupa simbiosis mutualisme menjadi kunci kebahagiaan keduanya. Karena itu, tidak heran, beberapa universitas di Amerika dan Eropa kini mempunyai departemen khusus yang mempelajari anjing dan binatang peliharaan lainnya sebagai companion animal.
“Dalam hal ini anjing dan binatang peliharaan lainnya tidak sekedar berfungsi sebagai binatang peliharaan untuk memenuhi hobi pemiliknya semata. Saat ini, mereka sudah berupa menjadi sahabat dan menjadi bagian dari keluarga pemiliknya,” ujarnya.
Di berbagai rumah sakit, ia melanjutkan, anjing dan juga berbagai companion animal lainya seperti kucing, kuda, kelinci, bahkan digunakan sebagai bagian dari terapi pasien dengan tujuan mempercepat masa penyembuhan.
Domestikasi Anjing
Prof Ronny mengurai, anjing domestik yang kini banyak dipelihara telah mengalami perubahan komposisi genetik dan tingkah laku dibanding anjing liar. Diperkirakan, anjing sudah mulai didomestikasi manusia sekitar 20.000-40.000 tahun yang lalu dari serigala.
“Titik domestikasi awal anjing diperkirakan dilakukan di wilayah Siberia dan selanjutnya menyebar ke seluruh bagian dunia seiring dengan bermigrasinya manusia,” ucapnya.
Di era modern, anjing sengaja diseleksi dengan tujuan tertentu sesuai fungsi dan selera manusia. Dengan demikian, terbentuk berbagai ras anjing dengan beragam ukuran, mulai dari mini sampai berukuran sangat.
“Dampak negatifnya, seleksi yang dilakukan manusia ini makin menyempitkan keragaman genetik. Akibatnya, setiap ras anjing hasil domestikasi dan seleksi ini memiliki tingkat ketahanan terhadap stres yang berbeda-beda,” ulasnya.
Dalam kesehariannya, ada anjing ras jenis tertentu yang lebih rentan terhadap stres seperti Border Collies, Australian Shepherds, German Shepherds, Labrador Retrievers, dan Cavalier King Charles Spaniels.
“Jenis anjing ini termasuk kelompok cerdas dan memiliki ikatan kuat dengan pemiliknya. Karena itu, mereka lebih rentan mengalami stres ketika ditinggalkan dibandingkan jenis anjing lainnya,” paparnya.
Dari segi perilaku pun sangat berbeda. Anjing domestik yang dipelihara saat ini lebih banyak menggantungkan kehidupannya pada manusia termasuk makanan, minuman, tempat tinggal, pengobatan dan lainnya.
Prof Ronny mengungkap, studi di Amerika menunjukkan masalah perilaku anjing meningkat 10 kali lipat dalam periode 2010-2020. Di Australia, penggunaan antidepresan seperti fluoxetine untuk anjing juga meningkat, menandakan semakin banyak anjing yang mengalami depresi.
Data empiris juga menunjukkan, seiring berjalannya waktu, semakin banyak anjing yang mengalami masalah perilaku seperti berubah menjadi agresif, cemas, dan perilaku menyimpang lainnya yang dideteksi di berbagai klinik hewan.
“Peningkatan jumlah anjing yang bermasalah ini mengkhawatirkan karena data tersebut baru berasal dari anjing yang dibawa ke klinik hewan. Jadi, bukan tidak mungkin masalah stres pada anjing merupakan fenomena gunung es. Karena itu, perlu mendapat perhatian serius, termasuk dampak negatif penggunaan antidepresan pada anjing,” tuturnya.
Bagaimana cara mengatasinya?
Menurut Prof Ronny, kunci dari permasalahan stres dan depresi pada anjing ini pada terletak pada pemiliknya. Anjing, sebagaimana manusia, tentu saja memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda. Apabila keinginan dan kebutuhannya tidak dimengerti dan tidak dipenuhi oleh pemiliknya, anjing akan mengalami frustasi.
Jika dipaksakan beradaptasi dengan keinginan dan gaya hidup pemilik, anjing akan mengalami stres. Jika tidak diatasi dengan tepat, stres ini dapat berujung pada depresi yang berdampak pada perilaku, kesehatan, dan kualitas hidupnya.
“Apabila pemilik tidak memahami akar permasalahan, mereka mungkin meminta klinik hewan untuk memberi anjingnya antidepresan. Untuk mengatasi hal ini, pemilik harus memahami keinginan dan kebutuhan anjingnya,” ujar Prof Ronny.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi stres pada anjing peliharaan, misalnya lebih sering mengajak anjing jalan-jalan, mengubah suasana lingkungan pemeliharaan, dan memberikan pelatihan yang membuat anjing lebih senang.
“Intinya, perbaikan hubungan antara pemilik dan anjingnya menjadi pilihan pertama dibandingkan dengan memberi antidepresan. Jika pemilik dapat memahami dan memenuhi ‘orientation goal’ anjing peliharaannya, maka anjing akan bahagia” tutup Prof Ronny. (**)






