Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Bogor Raya

Pakar IPB University Ungkap Alasan Sulitnya Cari Pekerjaan di Indonesia

badge-check

Unemployment Workers. Unemployed office workers holding cardboard signs job hunting Perbesar

Unemployment Workers. Unemployed office workers holding cardboard signs job hunting

Ilustrasi sulitnya mencari pekerjaan. (Net)

BOGORISTIMEWA.com – Tingkat pengangguran di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Menurut Pakar IPB University, Prof Alla Asmara, penyebab sulitnya lapangan pekerjaan di Indonesia sangat kompleks. Mulai dari perlambatan pertumbuhan ekonomi hingga ketidaksesuaian antara permintaan dan penawaran tenaga kerja.

“Perkembangan kondisi makroekonomi merupakan faktor fundamental yang memengaruhi penciptaan lapangan kerja,” ujar Prof Alla, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

Ia menjelaskan bahwa pada kuartal pertama tahun 2025, perekonomian nasional mengalami perlambatan dibandingkan kuartal pertama tahun 2024. Hal ini dipicu oleh penurunan belanja pemerintah dan melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini berdampak pada turunnya permintaan barang dan jasa di pasar.

“Akibatnya, sejumlah sektor usaha mengalami tekanan. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujarnya.

Selain itu, ketidakseimbangan antara jumlah penduduk usia kerja dan ketersediaan lapangan kerja turut memperburuk kondisi. Setiap tahun, jutaan angkatan kerja baru masuk ke pasar. Akan tetapi, pertumbuhan lapangan kerja tidak mampu mengimbangi. Ironisnya, ketika ada lowongan kerja, keahlian para pencari kerja sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

“Ini menyebabkan banyak posisi tetap kosong, sementara angka pengangguran tidak kunjung menurun,” tambah Prof Alla.

Perkembangan teknologi digital juga membawa dampak besar terhadap struktur lapangan kerja. Digitalisasi memang meningkatkan efisiensi, namun sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia, terutama untuk pekerjaan manual dan berulang. Sektor-sektor seperti manufaktur, perbankan, dan ritel kini banyak mengadopsi otomatisasi dan layanan mandiri, yang berdampak pada berkurangnya keterlibatan tenaga kerja manusia.

“Jika transformasi digital ini tidak diimbangi dengan penciptaan jenis pekerjaan baru, seperti di bidang teknologi, digital marketing, atau ekonomi kreatif, maka angka pengangguran akan sulit untuk dikurangi. Karena itu, keterampilan digital masyarakat harus ditingkatkan,” tegasnya.

Kondisi pengangguran yang berkepanjangan, lanjutnya, berimplikasi langsung terhadap aspek sosial masyarakat. Kehilangan pekerjaan berarti kehilangan sumber penghasilan utama, yang bisa berujung pada kemiskinan. Dalam jangka panjang, hal ini berdampak pada akses pendidikan, layanan kesehatan, dan berpotensi meningkatkan angka kriminalitas.

“Tekanan ekonomi bisa mendorong sebagian orang mengambil jalan pintas yang ilegal demi bertahan hidup. Jika dibiarkan, ini akan menciptakan instabilitas sosial dan memperparah ketimpangan ekonomi,” ujarnya.

Menurut Prof Alla, masalah pengangguran tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang terstruktur, terintegrasi, dan berkelanjutan, dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil.

Ia merekomendasikan sejumlah strategi jangka panjang, antara lain merevisi regulasi yang menghambat daya saing dan penciptaan lapangan kerja, merevitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi agar sesuai dengan kebutuhan industri, serta memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan sektor ekonomi kreatif.

Selain itu, dukungan terhadap ekosistem startup, pengembangan kawasan industri baru baik di Jawa maupun luar Jawa, serta kolaborasi lintas sektor juga dinilai penting untuk menciptakan lapangan kerja baru dan menghadapi disrupsi teknologi serta krisis ekonomi global.

“Jika kita tidak segera berbenah dan menyesuaikan diri dengan perubahan global, tantangan pengangguran akan semakin kompleks. Kita butuh kerja sama menyeluruh untuk membangun pasar kerja yang inklusif dan tangguh terhadap krisis,” pungkas Prof Alla. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Berita Terkait

Kasus Keracunan MBG Marak, Pemilik SPPG Kemang Ungkap Cara Kelola Dapur Sesuai SOP

26 Sep 2026 - 19:54 WIB

Kasus Keracunan MBG Marak, Pemilik SPPG Kemang Ungkap Cara Kelola Dapur Sesuai SOP

Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Dinonaktifkan, Kemenimipas Dalami Temuan Fasilitas Mewah

26 Sep 2026 - 19:41 WIB

Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Dinonaktifkan, Kemenimipas Dalami Temuan Fasilitas Mewah

Tirta Kahuripan Raih Sertifikat Halal untuk Jasa Pengolahan Air

25 Sep 2026 - 19:18 WIB

Tirta Kahuripan Raih Sertifikat Halal untuk Jasa Pengolahan Air

MyKahuripan Tampil Lebih Modern, Pelanggan Segera Dapatkan Reward dari Sistem Poin

21 Agu 2026 - 14:36 WIB

MyKahuripan Tampil Lebih Modern, Pelanggan Segera Dapatkan Reward dari Sistem Poin

Kolaborasi Bupati Rudy Susmanto dan PPLI, Malasari Jadi Fokus Pelestarian dan Pembangunan

28 Jul 2026 - 13:38 WIB

Kolaborasi Bupati Rudy Susmanto dan PPLI, Malasari Jadi Fokus Pelestarian dan Pembangunan
Trending di Bogor Raya