Menu

Mode Gelap
SOIna Kabupaten Bogor Gelar Halal Bihalal, Pacu Semangat Atlet Jelang Bupati Cup I PWI Kota Bogor Gelar Halal Bihalal Bersama Perumda Tirta Pakuan JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR Pemkab Bogor Gelar Forum Perempuan, Anak dan Disabilitas 2026 Dispora Segera Susun Kontingen Kabupaten Bogor Menuju Peparda VII Jabar 2026

Bogor Raya

Beras Oplosan, Pakar IPB University Jelaskan Dampaknya bagi Ekonomi Rumah Tangga

badge-check


					Beras Oplosan, Pakar IPB University Jelaskan Dampaknya bagi Ekonomi Rumah Tangga Perbesar

Ilustrasi beras oplosan. (Net)

BOGORISTIMEWA.com – Praktik peredaran beras oplosan kembali mencuat. Menurut Pakar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Dr Megawati Simanjuntak, dampak beras oplosan tak hanya tidak hanya menyasar kesehatan tetapi juga memperburuk kondisi ekonomi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

“Beras oplosan umumnya dicampur dengan zat pewarna atau pemutih berbahaya seperti Rhodamin B dan klorin demi mengejar keuntungan. Zat-zat kimia seperti itu sebenarnya tidak boleh digunakan dalam makanan. Klorin bahkan bersifat karsinogenik dan bisa meningkatkan risiko kanker,” ungkapnya melansir laman IPB, Senin (4/8/25).

Terkait dampaknya terhadap ekonomi rumah tangga, Dr Mega menjelaskan bahwa masyarakat yang tergiur harga murah justru menanggung dua beban sekaligus.

“Pertama, kerugian finansial karena beras berkualitas rendah tidak tahan lama, mudah basi, atau bau. Kedua, risiko kesehatan yang berujung pada biaya pengobatan yang tidak sedikit,” jelas Dr Megawati.

Menurutnya, kondisi tersebut pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan daya beli dan menambah beban ekonomi keluarga. Untuk itu, fenomena beras oplosan turut merusak kepercayaan masyarakat terhadap rantai pasok pangan, terutama produk yang dijual di pasar tradisional.

“Ketika konsumen tidak yakin terhadap kualitas beras yang dibeli, terutama di pasar tradisional, muncul rasa curiga. Konsumen kelas menengah atas bisa beralih ke produk bermerek atau membeli di supermarket yang dinilai lebih aman. Akan tetapi masyarakat kurang mampu tetap memilih produk murah yang berisiko,” ucapnya.

Selain itu, situasi ini tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga pedagang kecil yang jujur. Mereka kerap ikut terdampak oleh ketidakpercayaan konsumen meski tidak terlibat dalam praktik curang tersebut.

“Akibatnya, jarak antara pelaku usaha dan konsumen semakin lebar,” tegasnya.

Terkait perlindungan konsumen, Dr Megawati menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah memiliki regulasi seperti Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UU No 8 Tahun 1999), serta pengawasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Dinas Ketahanan Pangan. Namun, pelaksanaannya di lapangan dinilai belum optimal.

“Pengawasan masih terbatas dan belum konsisten. Banyak kasus baru terungkap setelah viral di media sosial. Selain memperkuat pengawasan, edukasi kepada masyarakat juga sangat penting agar konsumen semakin sadar dan terlindungi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kolaborasi Bupati Rudy Susmanto dan PPLI, Malasari Jadi Fokus Pelestarian dan Pembangunan

28 Juli 2026 - 13:38 WIB

Tirta Kahuripan Siap Dukung Pemkab Bogor Tangani Dampak Kekeringan

28 Juli 2026 - 10:25 WIB

Ketua DPRD Sastra Winara Tekankan Akuntabilitas dalam Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025

30 Juni 2026 - 22:33 WIB

Ketua DPRD Sastra Winara Dukung Gebyar UMKM HJB ke-544 Dorong Ekonomi Lokal

29 Juni 2026 - 22:11 WIB

Ketua DPRD Sastra Winara Tinjau MBG di SDN Babakan Madang 03, Semangati Siswa Menuju Generasi Emas 2045

25 Juni 2026 - 13:53 WIB

Trending di Bogor Raya