Menu

Mode Gelap
JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR Pemkab Bogor Gelar Forum Perempuan, Anak dan Disabilitas 2026 Dispora Segera Susun Kontingen Kabupaten Bogor Menuju Peparda VII Jabar 2026 Bupati Rudy Susmanto Resmikan 4 Layanan Baru di RSUD Bakti Pajajaran, Hadirkan DSA dan Kemoterapi Tebar Kebaikan di Bulan Suci, PLN UP3 Gunung Putri Santuni 41 Warga

Bogor Raya

Sijaka, Inovasi Prof Mega Safithri yang Ampuh Atasi Diabetes

badge-check


					Sijaka, Inovasi Prof Mega Safithri yang Ampuh Atasi Diabetes Perbesar

Sijaka, inovasi Guru Besar Biokimia Nutrisi IPB University, Prof Mega Safithri. (Dok IPB)

BOGORISTIMEWA.com – Guru Besar Biokimia Nutrisi IPB University, Prof Mega Safithri, mengatakan bahwa potensi obat herbal di Indonesia sangat menjanjikan. Menurutnya, kesadaran masyarakat akan perlunya pengobatan alami dengan efek samping minimal kini semakin tinggi.

“Dengan dilengkapi kajian ilmiah mengenai toksisitas, keamanan, dan efikasi, pengembangan obat herbal dapat lebih dipercaya,” ujar Prof Mega melansir laman IPB, Senin (8/9/25).

Dalam risetnya, Prof Mega dan tim menemukan kandungan senyawa aktif pada beberapa tanaman herbal, seperti piperine dan piperanine pada sirih merah, gingerol pada jahe merah, serta sinamaldehid dan asam sinamat pada kayu manis.

“Senyawa ini terbukti berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah dan meredakan inflamasi pada penderita diabetes,” jelasnya.

Prof Mega menjelaskan bahwa penelitian obat herbal, khususnya untuk diabetes mellitus (DM), dapat dilakukan melalui pendekatan biokimia medis dan nutrisi. Salah satu mekanismenya adalah pengujian bioaktif herbal terhadap enzim pengendali gula darah, seperti amilase dan alfa-glukosidase, melalui simulasi komputasi.

“Jika potensinya terlihat signifikan, penelitian dilanjutkan dengan uji in vitro dan uji in vivo pada hewan coba, sebelum menuju tahap uji klinis pada manusia,” paparnya.

Salah satu produk herbal hasil riset Prof Mega dan tim adalah Sijaka. Produk ini telah melalui proses komersialisasi sejak 2022. Beberapa testimoni pengguna menyebutkan adanya perbaikan signifikan, seperti penurunan tremor, perbaikan kadar HbA1c, serta kesiapan operasi mata.

Meski begitu, Prof Mega menjelaskan bahwa izin edar Sijaka masih menunggu kelengkapan persyaratan oleh mitra industri, PT Nano Herbaltama, yang ditargetkan rampung pada Agustus 2025 ini.

Prof Mega juga mengatakan perlunya edukasi publik dan peran dokter dalam mendukung penggunaan herbal berbasis bukti. “IPB University kini memiliki Fakultas Kedokteran dan bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit, termasuk RSUD Cibinong dan RS Pendidikan Universitas Airlangga, untuk pengembangan herbal pendamping terapi DM,” ungkapnya.

Melihat tren global, Prof Mega optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat riset dan investasi obat herbal dunia dalam 10 tahun ke depan. Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi bersama Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB University, diharapkan dapat tercapai ribuan paten obat herbal berbasis riset ilmiah.

“Harapannya, melalui riset berbasis bukti, Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam industri obat herbal global,” ucapnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

PLN UP3 Gunung Putri Percepat Layanan One Day Service, Dukung Ekspansi Industri di Bogor

20 Maret 2026 - 11:43 WIB

Lonjakan Kebutuhan Air Saat Lebaran Diantisipasi, Perumda Tirta Kahuripan Turunkan Ratusan Petugas

15 Maret 2026 - 22:32 WIB

JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong

12 Maret 2026 - 19:41 WIB

HUT ke-45, Tirta Kahuripan Layani 244.675 Pelanggan di Kabupaten Bogor

12 Maret 2026 - 00:47 WIB

Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR

9 Maret 2026 - 08:37 WIB

Trending di Bogor Raya