Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Bogor Raya

Isu Bumbu Masak Indonesia Berisiko Kanker Beredar di California, Ini Penjelasan Guru Besar IPB University

badge-check

Isu Bumbu Masak Indonesia Berisiko Kanker Beredar di California, Ini Penjelasan Guru Besar IPB University Perbesar

Ilustrasi Bumbu Masak. (Net)

BOGORISTIMEWA.com – Isu mengenai bumbu masak Indonesia yang disebut berisiko kanker yang beredar di California, Amerika Serikat, tidak sepenuhnya tepat. Pernyataan tegas ini diungkapkan Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Prof Nuri Andarwulan.

“Produk pangan Indonesia yang telah beredar di Amerika Serikat sudah pasti melewati pengawasan Food and Drug Administration (FDA) dan memenuhi standar keamanan pangan yang ditetapkan mereka,” ujarnya melansir laman IPB, Jumat (3/10/25).

Artinya, lanjut dia, produk tersebut telah memenuhi standar mutu dan keamanan yang berlaku secara nasional di Amerika. “Tidak mungkin produk yang beredar di Amerika merupakan produk ilegal,” tegasnya.

Ia menyebutkan bahwa permasalahan ini berasal dari ketidakjelasan informasi terkait jenis bumbu masak yang dimaksud. “Di semua berita hanya disebut ‘bumbu masak’, tanpa penjelasan merek, jenis, atau kandungan bahan tambahan pangannya,” jelasnya.

Namun demikian, California memiliki regulasi khusus yang berbeda dari negara bagian lain, yaitu Proposition 65 (Prop 65). Regulasi ini mewajibkan pelabelan pada produk, baik pangan maupun nonpangan, yang mengandung senyawa berpotensi karsinogenik.

“Bahkan kopi di Starbucks di California diberi label ‘dapat menyebabkan kanker’ karena mengandung akrilamida hasil proses sangrai,” terang Prof Nuri.

Ia menegaskan bahwa isu ini tidak berdampak besar terhadap reputasi maupun ekspor bumbu Indonesia. Menurutnya, peluang ekspor produk bumbu Indonesia masih terbuka lebar.

“Produk kita mengikuti regulasi internasional Codex Alimentarius Commission dan aturan negara tujuan ekspor. Jadi tidak perlu khawatir,” ungkapnya.

Menurutnya, viralnya isu ini di media sosial lebih disebabkan oleh penulisan yang kurang komprehensif dari sejumlah influencer dan kreator konten.

Tantangan utama justru ada pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan kesiapan pascapanen. “Kita masih sering kekurangan bahan baku, misalnya cabai dan tomat bubuk. Saat panen raya, hasil malah terbuang karena teknologi pascapanen tidak siap,” ujarnya.

Prof Nuri mengajak masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi informasi pangan. “Jangan sampai isu yang tidak lengkap justru menimbulkan persepsi negatif terhadap produk Indonesia yang sebenarnya aman dan berdaya saing tinggi di pasar global,” pungkasnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Berita Terkait

Tirta Kahuripan Apresiasi Pelanggan Setia di Hari Pelanggan Nasional 2026

22 Okt 2026 - 18:03 WIB

Tirta Kahuripan Apresiasi Pelanggan Setia di Hari Pelanggan Nasional 2026

Kasus Keracunan MBG Marak, Pemilik SPPG Kemang Ungkap Cara Kelola Dapur Sesuai SOP

26 Sep 2026 - 19:54 WIB

Kasus Keracunan MBG Marak, Pemilik SPPG Kemang Ungkap Cara Kelola Dapur Sesuai SOP

Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Dinonaktifkan, Kemenimipas Dalami Temuan Fasilitas Mewah

26 Sep 2026 - 19:41 WIB

Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Dinonaktifkan, Kemenimipas Dalami Temuan Fasilitas Mewah

Tirta Kahuripan Raih Sertifikat Halal untuk Jasa Pengolahan Air

25 Sep 2026 - 19:18 WIB

Tirta Kahuripan Raih Sertifikat Halal untuk Jasa Pengolahan Air

MyKahuripan Tampil Lebih Modern, Pelanggan Segera Dapatkan Reward dari Sistem Poin

21 Agu 2026 - 14:36 WIB

MyKahuripan Tampil Lebih Modern, Pelanggan Segera Dapatkan Reward dari Sistem Poin
Trending di Bogor Raya