BOGORISTIMEWA.com – Maraknya kasus keracunan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah menjadi perhatian pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bogor.
Pemilik SPPG di Kampung Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Deni Pramuji menilai persoalan tersebut harus menjadi evaluasi bersama. Terlebih, makanan dari program MBG setiap harinya dikonsumsi oleh jutaan orang, mulai dari siswa hingga guru di berbagai sekolah.
“Saya melihat banyaknya kasus keracunan MBG, bahkan yang bikin sangat prihatin adanya siswa di sekolah yang menolak MBG dari dapur SPPG,” ujar Deni kepada wartawan, Jumat (25/9/2026).
Deni yang mengaku telah mengelola 10 dapur SPPG menilai salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kesiapan sumber daya manusia dan tata kelola dapur sebelum operasional berjalan.
Menurutnya, masih terdapat dapur SPPG yang mempekerjakan tenaga memasak tanpa pengalaman di bidang tata boga.
“Yang saya lihat ada SPPG itu para pemasaknya tidak berpengalaman di bagian tata boga, masak-memasak, jadi dapur-dapur itu berdiri tanpa persiapan,” ucapnya.
Ia pun menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap proses memasak. Para chef atau juru masak, kata Deni, perlu diberikan pemahaman bahwa memasak di dapur SPPG memiliki standar yang berbeda dengan memasak untuk kebutuhan rumah tangga.
“Kita harus lakukan langkah persuasif seperti memberi tahu baik-baik kepada para chef agar tidak menyamakan proses memasak di rumah orang tuanya dengan di dapur SPPG, mengingat di dapur SPPG itu ada takaran SOP-nya,” tuturnya.
Selain memberikan arahan, Deni menyarankan pemilik SPPG ikut turun langsung melakukan pendampingan terhadap chef yang masih membutuhkan peningkatan kemampuan dalam mengelola makanan sesuai standar.
Ia menyebut pendampingan tersebut dapat dilakukan secara intensif selama tiga hari tiga malam agar seluruh proses memasak berjalan sesuai SOP yang telah ditetapkan.
“Jadi, kita pastikan dapur kita baik dan cara pengelolaannya baik sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” paparnya.
Deni juga menyoroti adanya siswa yang menolak makanan MBG dari SPPG tertentu. Menurutnya, kepercayaan pihak sekolah harus dibangun kembali melalui pembenahan nyata, bukan sekadar penjelasan.
Salah satu langkah yang disarankan yakni menyampaikan permintaan maaf kepada pihak sekolah sekaligus menunjukkan bahwa dapur telah diperbaiki, khususnya dari sisi kualitas dan kesehatan makanan.
“Sampaikan permintaan maaf dan buktikan kepada pihak sekolah bahwa dapur tersebut telah diperbaiki dari sisi kualitas kesehatan makanannya, jadi jangan sampai datang ke sekolah tapi dapur masih belum diperbaiki,” pungkasnya.










