Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Bogor Raya

Tanggapi Temuan Residu Etilen Oksida Pada Salah Satu Produk Mi Instan, Ini Penjelasan Guru Besar IPB University

badge-check

Tanggapi Temuan Residu Etilen Oksida Pada Salah Satu Produk Mi Instan, Ini Penjelasan Guru Besar IPB University Perbesar

Ilustrasu Mi Instan. (Ist)

BOGORISTIMEWA.com – Guru Besar Ilmu Pangan IPB University, Prof Nuri Andarwulan, memberikan penjelasan terkait temuan residu etilen oksida (EtO) pada salah satu produk mi instan yang belakangan ramai diperbincangkan.

Prof Nuri menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya melarang penggunaan EtO di dalam negeri. Namun, karena kebutuhan bahan baku bumbu seperti jinten dan bubuk cabai merah belum bisa dipenuhi sepenuhnya di dalam negeri, Indonesia masih mengimpor dari negara seperti India, yang memperbolehkan penggunaan EtO.

“Regulasi kita jelas, yakni penggunaan EtO dilarang. Akan tetapi, jika ada produk impor masuk, batas maksimum residu (BMR) yang diizinkan adalah 0,01 miligram per kilogram bahan (0,01 ppm). Angka ini sangat kecil dan ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah,” urainya melansir laman IPB, Sabtu (20/9/25).

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memastikan bahwa pengawasan terhadap pangan olahan yang beredar di Indonesia tetap berada dalam kendali otoritas yang berwenang. Bahkan, Prof Nuri menegaskan, dalam beberapa hal, standar yang ditetapkan di Indonesia lebih ketat dibanding regulasi internasional.

Hingga kini, lembaga pangan dunia seperti Codex Alimentarius Commission (CAC) belum menetapkan regulasi khusus terkait EtO. Kondisi ini membuat tiap negara mengambil kebijakan berbeda-beda.

“Indonesia memilih melarang penggunaan EtO, tapi tetap membuka impor dengan batas residu tertentu karena kebutuhan bahan baku dalam negeri masih kurang. Jadi regulasi ini bersifat kompromi, melindungi konsumen sekaligus menjaga pasokan industri pangan,” tegas Prof Nuri.

Lebih lanjut, Prof Nuri mengingatkan masyarakat agar tidak hanya fokus pada satu jenis makanan. Pola makan yang monoton dapat meningkatkan risiko paparan bahan kontaminan, meskipun kadarnya masih di bawah ambang batas.

“Kalau setiap hari hanya makan produk olahan yang sama, termasuk mi instan, risiko paparan tentu meningkat. Pemerintah selalu merekomendasikan konsumsi yang beragam, bergizi, dan seimbang. Itu kunci menjaga kesehatan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Berita Terkait

Tirta Kahuripan Apresiasi Pelanggan Setia di Hari Pelanggan Nasional 2026

22 Okt 2026 - 18:03 WIB

Tirta Kahuripan Apresiasi Pelanggan Setia di Hari Pelanggan Nasional 2026

Kasus Keracunan MBG Marak, Pemilik SPPG Kemang Ungkap Cara Kelola Dapur Sesuai SOP

26 Sep 2026 - 19:54 WIB

Kasus Keracunan MBG Marak, Pemilik SPPG Kemang Ungkap Cara Kelola Dapur Sesuai SOP

Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Dinonaktifkan, Kemenimipas Dalami Temuan Fasilitas Mewah

26 Sep 2026 - 19:41 WIB

Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Dinonaktifkan, Kemenimipas Dalami Temuan Fasilitas Mewah

Tirta Kahuripan Raih Sertifikat Halal untuk Jasa Pengolahan Air

25 Sep 2026 - 19:18 WIB

Tirta Kahuripan Raih Sertifikat Halal untuk Jasa Pengolahan Air

MyKahuripan Tampil Lebih Modern, Pelanggan Segera Dapatkan Reward dari Sistem Poin

21 Agu 2026 - 14:36 WIB

MyKahuripan Tampil Lebih Modern, Pelanggan Segera Dapatkan Reward dari Sistem Poin
Trending di Bogor Raya