Menu

Mode Gelap
SOIna Kabupaten Bogor Gelar Halal Bihalal, Pacu Semangat Atlet Jelang Bupati Cup I PWI Kota Bogor Gelar Halal Bihalal Bersama Perumda Tirta Pakuan JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR Pemkab Bogor Gelar Forum Perempuan, Anak dan Disabilitas 2026 Dispora Segera Susun Kontingen Kabupaten Bogor Menuju Peparda VII Jabar 2026

Bogor Raya

Stres Berkepanjangan Bisa Picu Kebotakan? Ini Penjelasan Psikiater IPB University

badge-check


					Stres Berkepanjangan Bisa Picu Kebotakan? Ini Penjelasan Psikiater IPB University Perbesar

Ilustrasi kepala botak. (Ist)

BOGORISTIMEWA.com – Stres yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memicu kebotakan. Fenomena ini dikenal dengan istilah alopecia areata, penyakit autoimun yang menyebabkan kerontokan rambut hingga membentuk kebotakan di beberapa bagian kepala.

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Riati Sri Hartini, MSc, SpKj menjelaskan, kondisi ini terjadi ketika hormon stres seperti kortisol meningkat dan mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga kekebalan tubuh keliru menyerang folikel rambut.

“Peningkatan kortisol akan mengurangi protein di folikel rambut dan memperpanjang fase istirahatnya. Pertumbuhannya akan terganggu dan siklus rambut menjadi tidak normal. Manifestasinya bisa berupa alopecia areata,” ujarnya.

Selain itu, stres juga dapat memicu perilaku mencabuti rambut sendiri atau trichotillomania. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan masalah psikologis yang mendasarinya, seperti depresi atau kecemasan.

Namun, dr Riati menegaskan tidak semua orang yang mengalami stres akan mengalami kerontokan rambut. “Faktor risiko tidak hanya stres saja. Jika faktor lain tidak ada, kerontokan belum tentu terjadi,” jelasnya.

Alopecia areata tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga kesehatan mental. Banyak penderita mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan, hingga depresi.

Penanganannya dapat dilakukan secara medis maupun psikologis. Secara medis, dokter kulit dapat memberikan kortikosteroid dalam bentuk suntikan, oles, atau oral, obat perangsang pertumbuhan rambut, imunomodulator, maupun JAK inhibitor untuk menyeimbangkan protein.

Dari sisi psikologis, pengelolaan stres melalui gaya hidup sehat, relaksasi, yoga, meditasi, dan konsultasi dengan profesional menjadi langkah penting.

“Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga fisik. Jika mengalami stres berat atau gejala kebotakan yang tidak biasa, segera cari bantuan profesional dan konsultasikan ke dokter,” pesan dr Riati. (**/ipb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Debut Perdana, Timnas FA7 Indonesia Bidik Prestasi pada Debut World Championship 2026 di Honduras

21 Mei 2026 - 21:35 WIB

Sambut HJB ke-544, Tirta Kahuripan Beri Promo Sambungan Baru Rp 544 Ribu

13 Mei 2026 - 20:54 WIB

PPLI Raih Apresiasi KLH di Ajang Indonesia-Japan Environment Week 2026

12 Mei 2026 - 16:03 WIB

Strategi Tirta Kahuripan Tingkatkan Suplai Air di Tarikolot

24 April 2026 - 21:57 WIB

SOIna Kabupaten Bogor Gelar Halal Bihalal, Pacu Semangat Atlet Jelang Bupati Cup I

8 April 2026 - 15:38 WIB

Trending di Bogor Raya