Menu

Mode Gelap
SOIna Kabupaten Bogor Gelar Halal Bihalal, Pacu Semangat Atlet Jelang Bupati Cup I PWI Kota Bogor Gelar Halal Bihalal Bersama Perumda Tirta Pakuan JJB dan KNPI Kabupaten Bogor Bagikan 1.000 Paket Takjil di Gelora Pakansari Cibinong Bupati Rudy Susmanto Larang Seluruh ASN hingga Perangkat Desa Minta THR Pemkab Bogor Gelar Forum Perempuan, Anak dan Disabilitas 2026 Dispora Segera Susun Kontingen Kabupaten Bogor Menuju Peparda VII Jabar 2026

Bogor Raya

Jahe Emprit, Si Kecil Pedas yang Strategis untuk Industri Herbal

badge-check


					Jahe Emprit, Si Kecil Pedas yang Strategis untuk Industri Herbal Perbesar

BOGORISTIMEWA.com – Di balik bentuknya yang mungil, jahe emprit (Zingiber officinale var. amarum) menyimpan potensi besar bagi pengembangan industri obat tradisional di Indonesia. Varietas jahe yang dikenal dengan rimpangnya yang kecil namun pedas, menarik perhatian kalangan akademisi dan industri herbal.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Sandra Arifin Aziz, menyampaikan bahwa jahe emprit memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari jenis jahe merah maupun jahe gajah.

“Jahe emprit berwarna kuning pucat, bentuknya kecil dan keras. Rasa pedasnya paling kuat di antara jenis jahe lainnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, kandungan zat bioaktif dalam jahe emprit seperti gingerol dan minyak atsiri sangat tinggi, menjadikannya unggul untuk pengolahan obat tradisional dan jamu.

Dibandingkan jahe merah yang juga memiliki rasa pedas dan tinggi gingerol, jahe emprit lebih umum dipilih karena kekerasan dan kestabilan kandungannya. Sementara itu, jahe gajah cenderung digunakan untuk konsumsi segar karena teksturnya besar dan rasanya lebih lembut.

Lebih lanjut, Prof Sandra mengatakan bahwa jahe emprit merupakan komoditas strategis yang berpotensi besar dikembangkan secara nasional. Hal ini tak lepas dari kandungan bioaktifnya yang berkhasiat sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan imunostimulan.

“Permintaan terhadap produk herbal, baik lokal maupun ekspor, terus meningkat terutama pascapandemi COVID-19. Jahe emprit bisa menjadi bahan utama untuk jamu cair, ekstrak kapsul, hingga minuman instan,” ujarnya.

Jahe emprit juga cocok ditanam di berbagai wilayah, termasuk lahan suboptimal. Keunggulan ini membuka peluang bagi petani lokal untuk terlibat dalam rantai pasok industri jamu yang bernilai tinggi.

Tak hanya untuk industri, masyarakat juga dapat memanfaatkan jahe emprit sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Prof Sandra menyarankan konsumsi jahe emprit secara rutin tapi tidak berlebihan.

“Bisa diseduh sebagai minuman herbal dengan air panas, ditambah madu atau jeruk nipis. Jahe ini juga baik dicampurkan dalam jamu rumahan bersama temulawak atau kunyit,” imbuhnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar penderita maag atau tekanan darah rendah berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya secara rutin. Penggunaan jahe emprit sebagai bumbu masak atau minuman infus juga bisa membantu menghangatkan tubuh dan memperlancar pencernaan.

Dengan segala manfaatnya, Prof Sandra menjelaskan bahwa pengembangan jahe emprit perlu didukung lintas sektor, dari hulu ke hilir, agar menjadi tulang punggung industri herbal Indonesia berbasis kekayaan hayati lokal. (**/ipb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kolaborasi Bupati Rudy Susmanto dan PPLI, Malasari Jadi Fokus Pelestarian dan Pembangunan

28 Juli 2026 - 13:38 WIB

Tirta Kahuripan Siap Dukung Pemkab Bogor Tangani Dampak Kekeringan

28 Juli 2026 - 10:25 WIB

Ketua DPRD Sastra Winara Tekankan Akuntabilitas dalam Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025

30 Juni 2026 - 22:33 WIB

Ketua DPRD Sastra Winara Dukung Gebyar UMKM HJB ke-544 Dorong Ekonomi Lokal

29 Juni 2026 - 22:11 WIB

Ketua DPRD Sastra Winara Tinjau MBG di SDN Babakan Madang 03, Semangati Siswa Menuju Generasi Emas 2045

25 Juni 2026 - 13:53 WIB

Trending di Bogor Raya